Patah Hati Sebelum Jatuh Cinta

patah hati sebelum jatuh cinta

Walau ada yang mengatakan mencintai adalah sebuah takdir, tapi urusan mencintai bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi jomblo yang tengah patah hati sedang trauma untuk jatuh cinta, mengikrarkan diri dengan insyaf dan sadar untuk taubatan nasuha, tidak ingin jatuh cinta dan menolak merindukan pria/wanita. Yakin mblo kuat kayak gitu?

Mencintai adalah suatu ni’mat yang di limpahkan-Nya, meskipun kadang dengan mencintai seseorang tetapi mendapatkan balasan yang menyakiti hati. Namun sebenarnya urusan sakit atau tidak tergantung bagaimana menyikapinya. Maka dari itu cobalah buka kembali hatimu sedikit saja nggak usah banyak-banyak kemudian kembali mencintai lagi. kalo nggak bisa? Tenang aja ada jalannya. Kata orang Jawa “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Meski disisi lain menurut Kahlil Gibran Cinta adalah anak dari kecocokan jiwa. Maka biasakan dirimu bersama orang yang kamu anggap cocok supaya bisa mencintai. Masa iya ni’mat yang begitu indah engkau dustakan?

 

Ngopi Gus…

 

Baru saja turun dari masjid usai menunaikan sholat Jumat, tiba-tiba ponsel ku bunyi. Terlihat ada pesan WhatsApp (WA) masuk, tertulis ajakan ngopi dari seorang teman. Aku sanggupi saja karena siang ini aku sedang free, nggak ada kegiatan.

Satu jam kemudian aku telah sampai di tempat janjian. Kami membunuh waktu dengan ngopi, walau aku tak memesan kopi. Teman yang mengajak ku tadi sudah nampak sampai lebih dahulu. Dia duduk sendirian di kursi kantin itu, sambil asyik membaca bukunya.

 

“Wiiihhh rajinnya bapak calon ketua ini.. kereeen juga Bukunya”, Aku mengawali obrolan. Kupanggil dengan sebutan bro saja.

 

“Apa to Gus cuma Buku kayak gini aja kok”, jawabnya dengan kerendahan hati.

Dia memanggil ku Gus meski sebenarnya namaku bukan Gus, apalagi Gus pondok sama sekali bukan.

 

Sebelum melanjutkan obrolan ku dengan dia, aku memasan es dulu, meskipun cuaca agak mendung hanya ingin minum es saja siang ini. Si Bro ini membaca bukunya sambil mengajak aku berdiskusi ngalor ngidul urusan kuliah organisasi sampai pada urusan Tiiiiitttt (disensor), eeit jangan ngeres hanya soal wanita dan percintaan saja. Sampai akhirnya kita saling menasehati urusan cinta seakan-akan kita paling tahu urusan percintaan macam Profesor yang memberikan tips-tips teori cinta. Maklumlah naluri seorang Konselor, suka memberi nasehat padahal sama-sama jomblo. Hehe.

Agak lama kita ngobrol hari semakin sore, datang lagi seorang teman sebut saja “Tengil”. Postur tubuh dan gayanya pas dengan sebutannya, obrolan kami semakin asyik dengan kedatangannya Tengil, kali ini membahas hubungannya dengan pacarnya. Kata si Bro, Tengil ini sedang Purik’an (red. Jawa) alias ngambek gara-gara si Tengil suka ngilang nggak jelas.

 

“Nggaaakk… Nggak ngambek kok, udah baikan lagi Sekarang, kemaren udah ngajak foto-foto lagi pas di pantai”, kata si Tengil.

 

Ya dua hari sebelumnya mereka mengadakan Tafaqur Alam di makam wali, kemudian ke pantai sekaligus Follow Up kegiatan organisasi kemahasiswaan.

 

“Eh ya Gus, tak kasih tahu fotonya si dia kemaren waktu di pantai”, celetuk si Bro ingin memperlihatkan ku pada salah satu foto, yang di maksud adalah seorang gadis.

 

Namanya Sukma, artinya adalah nyawa. Seperti namanya, dia menjadi nyawa dalam hatiku dan membuatku mampu merasa mencintai lagi. Membangkitanku dari rasa trauma karena cinta. Gadis sederhana dengan senyum manis yang selalu di tutupinya dengan masker, entah apa yang membuat ku jadi menaruh harapan pada dia.

Lalu aku di perlihatkan foto-foto dokumentasi. Rihlah mereka banyak sekali aku melihat ada beberapa foto Sukma dan foto-foto lain.

 

“Sudah Bro, sudah,.. aku nggak kuat melihatnya, gak sanggup aku”, kataku.

 

Fikiran irasional ku muncul dan perasaan ku tak bisa di bohongi. Setelah melihat satu foto dimana dia foto dengan seorang teman laki-lakinya, bagi orang lain atau dia mungkin itu foto biasa, tapi cukup membuat hatiku berkecamuk seketika.

Aaahh… Allah ya kariiimm.. apa aku akan patah hati lagi, apa engkau ingin mengenalkan ku lebih dalam tentang cinta dengan jalur patah hati ini. Aku jadi minder karena memang kalah ngganteng dengannya.

Aku berusaha berpikir rasional, “laki-laki itu hanya kamu anggap sebagai teman”, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.

 

“Iyaa.. aku tahu foto itu, kemren udah di pakai Story WA sama Sukma, yang satunya yang ada captionnya agak gimana gitu. Nggak tau ta kamu?” Tanyaku pada si bro dan Tengil.

 

“Nggak tahu aku, ada lagi ya?”, Si bro menjawab pertanyaan ku.

 

“Ada lagi bro, ini Lo yang aku takutkan, Eezzt mbuh, gak kuat aku.”

 

“Hahaha.. santai Gus… masa iya bener ni mau patah hati sebelum jatuh cinta”, si Tengil menyahut dan meledekku.

 

“Tenang-tenang Gus, masa iya kalah sama adek kelas mahasiswa baru, hahaha”, kata Si bro sambil menenangkanku sambil sedikit mengejekku.

 

Mereka berdua sepertinya senang sekali melihat penderita ku, yang tersiksa oleh rasa minder. Huuft.

“Ihdina As-Shiroto Al-Mustaqim”..

 

Tiba-tiba Sukma datang dan memarkirkan motornya di depan kampus. Dia turun memandang kami yang sedang duduk bertiga. Dia melemparkan senyum meski senyumnya terbungkus masker lalu menuju kantin ini, Karena ini memang kantin yang berada di halaman kampus.

Aduuuhhh.. makin berkecamuk tak karuan hatiku, dalam fikirku aku harus bagaimana? Aku harus berbuat apa?

 

“Acaranya di atas mbak, temen-temen udah nunggu di atas”, tanya si Bro sembari menjelaskan kalau kegiatan yang dia urusi bertempat di lantai dua.

 

Sebelum keatas dia sempatkan ngobrol sebentar dengan Si bro dan Tengil. Entah apa yang di omongin sambil tertawa-tawa bertiga. Aku tidak fokus mendengar. Hati dan fikiranku berkecamuk. Ada rasa ingin menatapnya tapi malu. Tapi juga ada sedikit marah dan cemburu. Aaahh.. tau ah.. aku hanya diam saja sambil memainkan ponselku. Kemudian Sukma keatas menjalankan tugasnya sebagai pengurus organisasi kemahasiswaan. Ada kegiatan mahasiswa baru yang harus dia urusi. Aku sedikit lega meskipun sambil meratapi nasib.

Ya Roobb betapa aku tidak mampu mengartikan gejolak hati dan fikiran ku ini. ku teruskan ngobrol ku dengan dua orang teman ku, membahas laki-laki yang ada di foto bersama Sukma tadi.

Tiba-tiba laki-laki teman sukma itu datang untuk ikut kegiatan.

 

“Ketinggalan lo mas”, aku menimpalinya dengan berlaga tidak sedang terjadi badai dan tsunami di alam hatiku.

 

“Iya mas, dimana acaranya, di atas ya?”, Tanya dia. Lalu langsung saja dia menuju keatas, tempat kegiatan berlangsung.

 

Usai kegiatan, laki-laki teman sukma itu nyamperin kita bertiga yang masih ngobrol di kantin ini. Kita ngobrol ala kadarnya. Tak lama Sukma turun dan gabung dengan kami.

Aduuuhhh.. kumat lagi perang batinku, seketika aku diam tak berani menatap wajah Sukma, hanya berani melirik-lirik sedikit kulihat mereka berempat ngobrol dengan asyik. Aku hanya diam saja merunduk dan mulai memerah wajahku.

Aku di tanyai oleh sukma tapi entah apa aku lupa aku jadi tidak fokus memperhatikannya. Aku jadi gugup gemetar tak karuan perasaan ku ada ketidakrelaan melihat dia duduk disamping teman lelakinya itu dan mengobrol dengan asyik. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tanpa pamit aku langsung saja meninggalkan mereka berempat. Sambil berjalan aku bilang ke si Bro “Ashar dulu aku”, hanya alasanku saja untuk menenangkan diri, meredakan emosi dan perasaan ku.

Usai sholat, kembali aku menemui mereka, tapi aku hanya duduk diam tak banyak menyambung apa yang mereka obrolkan. Aku pura-pura sibuk membaca bukunya si Bro.

Aku masih terdiam membaca buku tapi aku berpikir sebenernya apakah dia tahu yang sebenarnya kalau aku menaruh rasa padanya. Apakah dia sengaja bikin aku cemburu untuk mengetes kesungguhan ku?

*****

Akal dan perasaan adalah dua hal yang berbeda, keduanya punya fungsi dan cara kerja masing-masing, makanya meskipun akal sehat ku tahu kalau dia bukan pacarmu tapi tetap saja hati ku merasa cemburu. Karena mencintai bukan tentang logika, bukan pakai akal tapi pakai perasaan.

Aku yang hanya mampu duduk terdiam disampingnya sambil meredakan perih yang sangat di hatiku. Rasanya aku tak mampu menatap wajahnya, menyaksikannya bersenda gurau dengan teman lelakinya yang membuat ku cemburu itu.

 

“Deekk, aku cemburu dadaku sesak menyaksikan mu melempar senyum padanya”

 

Ingin sekali aku katakan seperti itu tapi hanya mampu dalam hati.

Ah… dasar aku ini, orasi dengan lantang di tengah kerumunan satpol PP saat turun Aksi Demontrasi saja berani, tapi kenapa pengen ngomong dengan lemah lembut didepamu aku tak punya nyali.. Allah ya Robiii…

Aku cukup mengeluhkan diriku yang saat ini. Huuft…

Hari sudah mulai gelap, teman lelakinya itu berpamitan duluan. Dia sudah tak nampak lagi di antara kita, sedikit membuat ku lega. Namun berselang tak begitu lama, datang lagi dua orang teman laki-laki. Aku mengenalnya. Dengan tingkah polah tengilnya, salah satu diantara dua teman laki-laki itu sengaja menggodanya. Aku hanya mampu melihatnya sambil tersenyum, pura-pura sibuk membaca buku. itu di anggap suatu kelucuan bagi si Bro dan Tengil, sebab hanya mereka berdua yang tahu bagaimana perasaan ku pada Sukma.

Si Bro dan Tengil tertawa lebih keras melihat dia digoda dan melihat ku dengan wajah penuh kecemburuan yang berusaha aku sembunyikan.

 

“Loooh, berani-beraninyaa”, kata si Bro yang sedang melihat Sukma di goda.

 

Tapi setelah itu mereka tertawa-tawa menyaksikan ini semua, tak tau bagaimana perasaanku.

Meskipun cuaca sore ini hujan deras dan suhu semakin dingin rasanya tetep saja hatiku panas. Mulak-malek kek Sempol di goreng.

Adzan telah berkumandang aku bergegas mengambil wudhu dan mengajak yang lain untuk segera magrib, akhirnya semua ikut bergeser ke mushola yang berada tak jauh dari kantin tempat kami ini.

Usai berjamaah magrib aku tengadahkan kedua tanganku walau sebelumnya aku bukanlah pendo’a yang meminta-minta agar engkau menjadi milik ku, aku hanya berdoa untuk di beri jalan yang terbaik bagi kita.

Kali ini dalam tengadah do’a, ku ucapkan Syukur pada-Nya mengenalkan ku pada rasa cemburu yang syahdu. Mengajari hatiku untuk tak terlarut dalam pilu.

Do’a telah kucukupkan, aku tak meminta banyak pada-Nya. Seperti diawal, aku hanya memohon yang terbaik saja. Kondisi di luar masih hujan, usai berdoa kita kembali ke kantin, dimana masih ada Sukma yang ternyata sedang berhalangan alias Libur sholat.

 

“Loh, kamu nggak sholat Sukma?”, Tanyaku untuk membuka percakapan yang sejak tadi aku menahan bicara dengannya. Meski sebenarnya aku paham alasannya kenapa dia tidak ikut sholat.

 

“Hehemmmm”, jawabannya dengan senyuman pelit dibibirnya sambil memandang layar android yang di Pegangnya.

 

Sambil menunggu hujan reda kita melanjutkan obrolan meskipun tak banyak yang kita bicarakan. Aku masih sedikit menahan bicara karena sebenarnya masih malu untuk memandang dan bercakap-cakap dengan dia.

Sepertinya hujan semakin deras, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19:17 WIB. Aku melihat Sukma berkemas merapikan tasnya dan memakai jaket merah kesukaannya.

Aku menduga dia akan pulang, karena sudah malam. Meskipun dia harus menerobos hujan yang masih deras, tapi aku diam saja tak mencegahnya dan tak bertanya dia mau kemana. Ternyata benar dia nekat menerobos hujan dan pulang.

Setengah jam kemudian kuberanikan bertanya lewat chat WA

 

“Kamu pulang?”, Tanya ku meski aku tahu dia pulang.

 

“Berangkat”, jawabnya ketus

 

“Ya pulang lah”, susul pesan WAnya yang belum sempat ku baca.

 

“Maksudku udah sampai rumah belum?”, tanyaku. Jawabnya sudah.

 

Kemudian dia menanyakan ada perihal apa kenapa aku menanyakan hal tersebut. Aku jawab saja tidak ada apa-apa walau sebenarnya aku khawatir dia kenapa-kenapa. Meskipun didepan banyak teman tadi ketika dia pamitan, aku berlagak biasa dan tega melihatnya pulang sendirian.

Aku hanya bisa begini, merasa bisa leluasa dan lebih berani ngobrol ngalor ngidul dengan Sukma hanya melalui pesan WA. Aku sendiri gagal faham kenapa bisa begini? Masa iya, seorang demonstran yang udah jadi sarjana turun nyalinya kayak anak SMA saat berhadapan dengan orang yang di cintainya. Ini baru berhadapan lho, apa lagi mengungkapkan perasaan.

 

“La Haula Wala Quwwata Illa Billah”

Tiada daya upaya melainkan dari mu Ya Allah..

 

Hujan tak reda-reda malam semakin larut. Untung saja kesedihanku tak sampai berlarut-larut. Suhu semakin dingin, belum sejam aku tak melihatnya, mulai muncul dalam hatiku perasaan rindu. Rindu yang tak kunjung sembuh meski telah ku obati dengan senyumnya yang teduh.

Aaahh.. hujan ini tak bisa di ajak bersahabat, hujan ini tak hanya mendatangkan basah tapi juga dingin, begitu pula cinta bukan hanya mendatangkan rindu tapi juga cemburu.

Hujaan reda lah…

sebentar kemudian reda dan aku pun pulang. Tapi ada yang masih belum reda selain hujan, yaitu rindu dan cemburuku.

Aku sudah sampai rumah dan masih ku lanjutkan ngobrol melalui WA sebentar, namun Sukma tak membalas, mungkin dia sudah tidur. Aku pun yang sudah berada diatas kasur dengan masih kedinginan, hanya bisa memeluk guling dan bayangannya. Aah.. jangan berpikir aku membayangkan yang aneh-aneh, hanya membayangkan senyum manisnya saja. meski pun terselip gelisah dalam hatiku

Apakah iya cintaku padanya terbalas? Apakah iya dia juga mencintai ku?.

 

“Lee… Tangi.. wis awan subuh po gak? “

 

Terdengar teriakan dari luar kamar, Suara dari seorang perempuan tua membangunkan ku untuk sholat. Ternyata sudah pagi lagi, kegelisahan yang mengantarkan aku tidur tadi malam ternyata masih ada.

Tapi aaahh.. Yang penting aku mencintainya, ku singkirkan sarung dan gulingku, bergegas aku untuk sholat subuh.

 

“Alhamdulillahilladhi Ahyana Ba’da Ma Amatana Wa Ilaihinnushuur; Jika Allah berkehendak mematikan sekaligus membangkitkan hambanya di kala tertidur, mana mungkin sepenggal cinta dalam hatinya tak mampu dihidupkannya”.*

 

Kamar tidur, 09 Februari 2018.

==========================

*mengutip sewindu satu cinta.

*Oleh: M. Widiyastana H.
Tuan Besar pimpinan jomblo dengan segudang pengalaman patah hatinya kemudian kini baru belajar ngoceh.

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *