Tukang Sol

tukang-sol

Hari menjelang pagi. Tatkala matahari terbit dari ufuk timur, matahari menampakkan warna cerahnya yang memberikan semangat hidup untuk menimba ilmu.

 

“ul, sini deh,” ucap Ararah kepada Davi yang sedang di teras.

 

“ ya Fah, ada apa?” tanya Dewikepada Arafah

 

“ Ayo cerita yuk Vi!!!”

 

“ cerita?” tanya Devi

 

“ iya Vi”

 

“ tapi cerita apa Fah, aku nggak punya cerita”

 

“ ya udah aku aja yang cerita, kamu yang dengerin” ucap Arafah kepada Devi.

 

“ iya Fa” jawab Devi

 

“ dulu itu ayahku seorang tukang sol sepatu dan dari pekerjaannya itu lah ayahku menafkahi istri dan kedua anaknya, yaa…walaupun hasinya nggak seberapa sih”.

 

Pagi hari ayahku sudah berangkat untuk mengais rejeki, ia selalu memakai topi berwarna coklat abrak untuk bekerja. Terkadang ada pelnggan yang minta ini minta itu, tatapi ayahku selalu meladeninya dengan sabar dan tabah walaupun upah sol sepatu Cuma Rp 5000,- saja. Hingga pada suatu hariayah mempunyaikeinginan yang menurut ibu sangat tidak masuk akal.

 

“ bu…ayah ingin berkurban tahun depan” ucap ayah kepada ibu sewaktu menyapu ruang tamu.

 

“ yah berkurban itu bagi orang yang mampu, sedangkan uang yang ayah kasih buat ibuk Cuma cukup untuk biaya makan kita sehari hari”

 

“ lo kenapa inu malah mencegah ayah untuk berbuat baik, bu…kita berkorban supaya nanti di akhrat nanti hewan yang kita kurbankan akan menjadi kendaraan di sana besok bu, iini ibu malah nggak doain ayah untuk bisa berkurban, malah marahin ayah” protes ayah kepada ibu.

 

“ya, ya ibu doain supaya besok tahun depan ayah bisa berkorban,” ucap ibu.

 

“amin, lho itu dong, kan enak ayah dengarnya,”

 

“kalau ayah ingin berkorban, ayah harus giat bekerja, supaya nanti hasilnya bisa ditabung untuk bisa ditabung untuk membeli hewan kurban ayah,”

 

“iya bu, ayah janji, ayah akan giat bekerja,” jawab ayah dengan penuh semangat.

*****

 

Dengan doa dan usaha,berikhtiar sedikit demi sedikit akhirnya, tabungan ayahku penuh. Akhirnya ayahku dapat membeli kambing setelah empat tahun menabung.

 

“Allah akbar, Allah akbar, Allah akbar, la ilaha iallahu Allah akbar, Allah akbar walillahilham,”

 

Waktu hari raya idul adha sudah tiba, kambing yang akan dikurbankan diberi nama oleh ayah, keluarga Bapak Chasbullah. Dan aku tidak mengira, seorang tukang sol sepatu bisa berkurban kambing untuk kecilnya itu, subhanallah.

 

“sungguh besar sekali rahasia Tuhan Yang Maha Esa,”

 

Cerita yang ibu ceritakan padaku akan ku kenang selama aku masih hidup.

 

“oh, jadi begitu ceritaya, eh Kah, aku mau Nana tapi kamu harus janji, kamu jangan marah ya Kah?”

 

“iya, demang mau Nana apa sih kok Vi, Go pakai janji jangan arah juga?”

 

“aku mau tanya, kalau ayah kamu seorang tukang sol, lha, terus yang biayain kau sekolah siapa? Kan ayah kamu penghasilannya kurang” tanya Davi dengan sedikit sombong.

 

“aku itu sekolah dibiayain sama ayah akulah, dan sekarang Alhamdulillah ayah kau ludah dapat kerjaan di luar kota. Setiap bulan ayahku kirim uang untuk sekolahku dan uang makan,”

 

Kring…kring…kriing… tak terasa bel masuk sekah berbunyi 3 kali.
Arafah dan Daul pun masuk kelas.

*****

Kring….kriing… bel pulang sekolah berbunyi, Satya Ararah dan Daul pulang sekolah.
Sesampainya di rumah, Ararah terkejut saat melihat ayahnya pulang dan sedang duduk di sofa.

 

“Assalamu alaikum,” ucap Arafah.

 

“Wa alaikum salam, Arafah,” jawab ayah.

 

“ayah, …ayah kapan pulangnya?’

 

“baru kok sayang ayah pulangnya,” jawab ayah sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

 

“ini apa ayah?” tanya Arafah Penuh Ing tahu.

 

“ini adalah oleh-oleh hanya untuk Arafah seorang,”

 

“ye..oleh – oleh terima kasih ayah, Arafah sayang sama ayah,” ucapan terima kasih Arafah dengan sedikit manja.

 

“sama-sama sayang,” jawab ayah.

 

Dengan semangat, Arafah membuka oleh-oleh dari ayah yang berisikan kalung yang bernama ‘ARAFAH”.

 

“ayah, kalau Arafah dapat oleh-oleh, pasti oleh-oleh buat ibu ada kan ayah?” tanya ibu dengan sedikit cemburu.

 

“pasti ada dong bu” jawab ayah.

 

“apa ayah?” tanya ibu.

 

“ini bu” jawab ayah.

 

“wah,…terima kasih ayah”

 

“sama-sama ibu” jawab ayah.

 

Ibupun membuka oleh-oleh dari ayah yang berisikan cincin dan kalung.

*****

 

Matahari telah nampak dari ufuk timur. Waktunya Arafah menimba ilmu di SDN 1 Semarang. Arafah berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda gunung yang bermerk PACIFIC.

 

“Fah, nanti kita cerita lagi yuk?” ucap Daul kepada Arafah.

 

“tak apa, biar nanti aku yang akan cerita” ucap Davi.

 

“Bener ya? Cerita soal apa?”

 

“ada deh, kepo ya?”

 

“Hub, ya ludah ayo kita masuk ke kelas” ajak Arafah untuk masuk ke kelas.

 

“Ayo” jawab Davi.

 

Braaaaaak…..
Saat mereka akan pergi ke kelas, tiba-tiba terdengar suara tabrakan antara tukang sol dan mobil. Mereka pun melihat kejadian itu.

 

“Arafah, apakah itu ayahmu?”

 

“bukan,ayahku sedang ada di rumah. Kemarin ayahku baru pulang,” jawab Arafah.

 

“oo…ya ludah, mari kita masuk,”

 

“ayo,” jawab Arafah.

 

Lalu mereka pun pergi ke kelas dengan penuh canda dan tawa.

 

 

Oleh: Putri Hasna Lia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *